Beda jam 1 siang dan jam 3 sore

Alhamdulillah, tahap kedua sudah bisa dilalui, walau belum dengan hasil terbaik. Tetap Alhamdulillah bisa menyelesaikannya.

Satu langkah anak tangga sudah bisa di gapai, masih banyak anak tangga berikutnya di depan.

Tetap semangat belajar, karena ilmu tidak ada habisnya. Karena dirimu tidak banyak yang engkau ketahui,

Iklan

tulisan buat ayah

Mencoba untuk menuliskan kembali postingan dari pak dosen, tentang parenting. Sumbernya dari postingan facebook ini   , berikut ini tulisan dari beliau

*KETIKA BAHU AYAH, SENYAMAN NENEN BUNDA*

Duhai para ayah, jika anakmu mulai curhat hal-hal paling pribadi dirinya, berbahagialah karena engkau telah merebut “kepercayaannya”. Sebab bisa jadi anakmu justru merasa nyaman curhat dengan temannya, apalagi jika temannya itu lawan jenisnya. Kepercayaan anakmu telah direbut oleh pihak yg sangat mungkin tak tanggungjawab, sekedar mencari kesenangan dunia muda. Perkara horor bisa bermula.

Rasa percaya dan nyaman itulah yg menjadikan Yusuf curhat pada ayahandanya Ya’kub.

Duhai para ayah, jika anakmu sudah mulai main rahasia-rahasia-an, kamarnya sering dikunci, hp/gadgetnya mulai tdk boleh disentuh buka ayahnya, dll, curiga-khawatirlah bahwa itu adalah sinyal penanda sesuatu yg horor sedang bermula. Privasi anak itu soal lain. Ini adalah soal keterbukaan antara anak dan ayah, kenyamanan saling berkomunikasi.

Saling terbuka rahasia dg nyaman itulah yg terjadi pada Ibrahim dan Ismail, sang ayah dan sang anak, demikian juga sebaliknya.

Duhai para ayah, jika bahumu sudah bisa menenangkan anakmu, bahkan saking nyamannya membuat anak terlelap, seperti tenangnya anak saat nenen (maaf diksinya sengaja vulgar) pada ibunya, keributan yg hanya bisa teredakan dg senjata pamungkas: “nenen”, bahkan melelapkannya hingga pulas. Maka berbahagialah duhai ayah, karena bahumu bisa menyamankan anakmu, senyaman nenen bunda, senyaman pelukan bunda. Karena bisa jadi bahumu yg menyamankan itu akan menjadi modal besar saat anak mencari kenyamanan di masa puber, saat anak mencari sandaran di persimpangan-persimpangan kritis fase pendewasaannya.

Maka siapkanlah bahumu untuk anakmu, buatlah ia nyaman di bahumu, maka engkau akan merasakan, betapa bahagianya menjadi ayah, melebihi bahagianya paper ilmiah yg diterima di jurnal internasional Q1.

Kapan anakmu menyandarkan kepalanya di bahumu? Kapan anakmu terakhir curhat padamu? Kapan terakhir kau usap lembut kepalanya? Kapan terakhir kali kau tatap jeli matanya bak bidadari itu? Kapan terakhir kali kau doakan anakmu, pada rintihan doamu yg paling syahdu?

 

Mengingatkan kembali jika anak anak membutuhkan sentuhan dari orang tuanya, tidak hanya minta dicukupi kebutuhan materinya. Sudah banyak postingan tentang apa yang diinginkan anak dari orang tuanya, beberapa tentu minta mainan , jajanan, dan sebagainya. Tetapi jika ditelusuri lebih lanjut, biasanya diujung permintaan itu, biasanya terselip meminta waktu untuk bersama orang tuanya.

Menggendong anak ketika kecil, bagi sebagian ortu baru biasanya dikomentari ” jangan sering di gendong, nanti bau tangan, maunya digendong terus “. ya, mungkin itu ada benarnya, tapi untuk balita, jika digendong orang tua itu merupakan sebuah kenyamanan, tentunya dia akan meminta. Mungkin saat dia sedang sedih, capek, marah dan suasana hati sedang tidak enak, hanya dekapan dalam gendongan orang tuanya lah yang bisa menenangkannya. Juga, kalau ada cowo/ bapak2 yang jalan jalan sambil menggendong anaknya, tidak akan turun peringkatnya jadi seorang cewe/ibu2.  Bahkan jika bisa membuat anak tidur dalam dekapanmu, itu sesuatu yang ‘wah’ menurutku.

Jika sedari kecil anak sudah nyaman dengan orang tuanya, merasa dekat dengan orang tuanya, tentunya akan mudah baginya tuk berbagi cerita dengan orang dekatnya.